RONGGENG GUNUNG TARIAN KEGELISAHAN

Bi Raspi mencoba mengatur irama kendang yang mengiringinya, ia memulai pertunjukan Ronggeng Gunung tepat pukul 00.00 WIB, malam yang membuat saya serta kawan-kawan dari Bandung seperti Adit, Bebeng, Arul, Deddy Koral, Yusef Muldiyana, Ayi Buchori dan Imam Abda terus bertahan hingga subuh. “Ini nyanyian kematian…..” bisik Godi Wuwarna, seniman penggagas acara Nyiar Lumar yang sengaja mengundang Bi Raspi untuk ngaronggeng.

Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui

Kawih itu dinyanyikan Bi Raspi (54). Suaranya melengking dan menyayat hati, lengkingannya menembus pekat dini hari hutan Astana Gede, sebuah kawasan pemakaman raja raja Galuh di kecamatan Kawali Ciamis Jawa Barat.

Bi Raspi mencoba mengatur irama kendang yang mengiringinya, ia memulai pertunjukan Ronggeng Gunung tepat pukul 00.00 WIB, malam yang membuat saya serta kawan-kawan dari Bandung seperti Adit, Bebeng, Arul, Deddy Koral, Yusef Muldiyana, Ayi Buchori dan Imam Abda terus bertahan hingga subuh. “Ini nyanyian kematian…..” bisik Godi Wuwarna, seniman penggagas acara Nyiar Lumar yang sengaja mengundang Bi Raspi untuk ngaronggeng.

Waktu itu Minggu 24 Agustrus 2008, Bi Rapi sang ronggeng terus ngawih tak kenal lelah, para penonton mulai menghampiri dan mengelilingi Bi Raspi, tak terkecuali saya dan kawan-kawan. Kami menari dengan tabuhan kendang dan lengkingan Bi Raspi yang dasyat itu, menyayat dan kadang emosi kami membaur. Ronggeng Gunung adalah bentuk kesenian tradisional sama seperti jenis ronggeng lainnya seperti Tayub, Amen, Kaler dll, Ronggeng Gunung dilengkapi gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utamanya adalah seorang perempuan, biasanya dilengkapi selendang. untuk menggaet penonton yang biasanya kaum laki-laki, diajak menari dan diharapkan nyawer uang, yang diselipkan pada (maaf) bagian belahan dada penari.

Kata kematian yang dibisiki Godi menggoda hati saya untuk bertanya padanya, di tengah tarian kami Godi menuturkan, tarian Ronggeng Gunung berawal dari kisah dendam Dewi Samboja puteri ke-38 dari Prabu Siliwangi. Waktu itu suami Dewi yakni Angkalarang mati terbunuh oleh para bajak laut pimpinan Kalasamudra. Kesedihan Dewi tak terobati, iapun mencari akal untuk balasa dendam, dan dengan bekal wangsit dari Prabu Siliwangi ia menyamar menjadi seorang penari ronggeng kembang bernama Nini Bogem. Saat Dewi Samboja beserta rombongan sampai di markas para penjahat, ketika mereka mulai larut dalam tarian dan kemolekan sang ronggeng, disanalah ia membalas kematian sang suami. Dewi memba buta membantai semua penjahat, tak terkecuali Kalamasudra. Ini mungkin yang dimaksud Godi sebagai nyanyian kematian, karena kemudian Ronggeng Gunung menjadi tarian berbau dendam. Konon masih ada versi lain yang menyebutkan asal usul Ronggeng Gunung itu.

Itu terjadi pada awal abad 19, dan perkembangan selanjutnya Ronggeng Gunung menjadi tradisi rakyat Ciamis dalam setiap acara khitanan, nikahan atau upacara adat. Namun pada awal abad 20 pergeseran nilai tarian ini berubah, pandangan orang terhadap ronggeng sangat negative, karena sang penari bukan hanya bisa diajak menari namun juga bisa dibuking semalaman. Hingga pada awal kemerdekaan Indonesia Ronggeng Gunung dilarang dipertunjukkan untuk umum. Setelah itu tarian Ronggeng Gunung lenyap dari peredaran sampai akhirnya sejatrah mencatat nama Bi Raspi. Tarian Gelisah Bi Raspi menjadi satu-satunya nyawa yang tersisa dari Ronggeng Gunung, lahir di Kampung Sawangan Desa Ciparakan Kecamatan Kalipucang Ciamis 54 tahun yang lalu, ia sendiri mengaku belajar menari Ronggeng pada tahun 1972, ketika lulus sekolah SD. Itupun tak disengaja, saat itu ia sedang menonton latihan Ronggeng Gunung pimpinan Maja Kabun.

Bi Raspi kecil ikut ngibing, malah ia dipilih Maja untuk gabung menjadi penari ronggeng. Sejak itulah ia sering manggung. Seiring waktu Bi Raspi remaja menjadi ronggeng idola. Perangkat yang digunakan dalam Ronggeng Gunung hanya tiga buah yakni siri bonang, kendang dan goong. Jika Bi Raspi sudah ngahaleuang (nembang, ngawih, nyanyi), banyak orang yang berkomentar asa ngapung teu tepi, asa napak teu tepi. Sorana ngawang-ngawang tapi andalemi. Artinya orang merasa terbang melayang, suaranya meggema dan begitu dalam Tapi kini Ronggeng Gunung bak layang layang putus benang, semangat Bi Raspi untuk melestarikan itu dibayang bayangi rasa ketakutan tak ada yang merawat tradisi ini. Anak semata wayangnya Nani Suhayani seperti tak tertarik mengikuti jejaknya, padahal menurut Bi Raspi pernah suatu kali ia didatangi orang Amerika yang ingin belajar menari ronggeng gunung, tapi bi Raspi tak ingin budaya ini pindah ke negeri lain.

Seabreg penghargaan dari pemerintah seperti belum mengobati rasa ragunya akan kelestarian Ronggeng Gunung. “Bibi mah teu hayang ukur penghargaan, tapi kumaha ieuh ronggeng teh bisa hirup mun bibi geus maot,” ujarnya di sela-sela istrihat ngawih dan menari. Terenyuh juga mendengar keluhan Bi Raspi.

Pagi mulai beranjak pukul 02.00 WIB, Bi Raspi kembali ngawih.

Jambe rendeh…
Sapasang Jambe Pamere
Dipepende unggal sore
Sapanjang jadi bebende

Kami pun kembali menari, kali ini diiringi kegelisahan Bi Raspi. Suaranya terus melengking dan menyayat, seperti tengah menggembirakan kesedihan.

** Budayawan Tinggal di Bandungcom

sumber laskarpanggungbdg.multiply.com

1 Comment »

  1. 1
    Rud Says:

    Gali Terus Budaya kita…..HIDUP Indonesia…..


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: